logo ind2                                                                                                  

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H Tahun 2022

Pendaftaran Wisuda Gelombang II Periode Juni 2022 Universitas Mulawarman

Bahas Transformasi Public Relations, Ilmu Komunikasi Angkatan 2021 Sukses Adakan Talkshow Di Unmul Hub

Pendaftaran Kuliah Kerja Nyata(KKN) Universitas Mulawarman Angkatan 48 Tahun 2022

Informasi Pendaftaran Program Indonesian International Student Mobility 2022

wawancara dekanDalam usianya yang ke-50, banyak pengalaman dan perkembangan yang telah dialami oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman (Fisip Unmul). Dalam hal jumlah program studi (prodi) misalnya, sebelum tahun 2000, jumlah prodi hanya tiga, yakni Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Sosiatri. Peningkatan secara signifikan terjadi mulai tahun 2000 dengan dibentuknya prodi-prodi baru. Sekarang ini (2012), Fisip Unmul memiliki satu Program D3, sembilan program S1, satu program S2, dan satu lagi program yang dalam proses pembentukannya, yakni program S3.


Jumlah mahasiswa juga terus meroket.Sebelum tahun 2000, jumlah mahasiswa tidak lebih dari 700 orang, lalu melonjak drastis menjadi 4585 orang pada tahun 2007, dan sekarang (September 2012) telah menembus angka 6000 lebih.

Kampus Fisip yang dulu berlokasi di kompleks perumahan dosen Sidomulyo berupa rumah papan -- yang kemudian pindah ke Jalan Flores, dan selanjutnya ke Gunung Kelua di kampus Fisip yang sekarang – kini sudah memiliki puluhan gedung-gedung beton, yang beberapa di antaranya bertingkat tiga dan empat.
Dalam setengah abad perjalanannya, Fisip Unmul telah dipimpin oleh para Dekan secara silih berganti. Dekan Fisip Unmul yang sekarang, Prof. Dr. H. Adam Idris, M.Si, adalah Dekan Fisip Unmul yang ke-12, yang baru menjabat sejak tahun lalu. Tim website Fisip Unmul mendapat kesempatan untuk mewawancarai beliau guna mendengarkan pandangan-pandangan tentang berbagai hal dan arah kebijakannya selama kepemimpinannya dalam pengembangan Fisip Unmul ke depan. Berikut adalah petikan wawancaranya.


Tanya:
Visi dari Fisip Unmul adalah “Mewujudkan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebagai pusat peradaban, yang berjiwa entrepreneur di bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan menjalin jejaring nasional dan internasional di Kalimantan pada tahun 2020”. Apakah ini merupakan visi Fisip Unmul yang sama sekali baru?

Jawab:
Visi ini merupakan penyempurnaan dari visi dan misi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebelumnya.


Apa maksud dari Fisip Unmul sebagai pusat peradaban yang berjiwa entrepreneur di bidang ilmu sosial dan politik?

Pada mulanya, output yang diharapkan dalam visi dan misi Fisip Unmul sebelumnya hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu perlu adanya penajaman. Istilah pusat peradaban kemudian dimasukkan maksudnya adalah agar para lulusan/alumni nantinya tidak hanya memiliki/menguasai pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga memiliki etika, moral yang tinggi, dan pendekatan-pendekatan dari aspek religius. Konsep peradaban sebenarnya adalah penggabungan dari ilmu pengetahuan (knowledge), etika atau moralitas dan pendekatan religius. Sementara peradaban yang berjiwa entreprenuer di bidang ilmu sosial dan ilmu politik maksudnya adalah ilmu yang diperoleh dari Fisip harus bisa diminati oleh masyarakat. Ketika diminati oleh masyarakat berarti ilmu tersebut diperlukan oleh masyarakat. Jika ilmu tersebut tidak diminati sudah tentu tidak akan mereka gunakan. Kita berharap ilmu yang diperoleh dari Fisip bisa bermanfaat untuk masyarakat karena diminati oleh masyarakat.


Maksud dari berjiwa entrepreneur itu apa? Apakah Fakultas mengharapkan semua alumni Fisip Unmul nantinya jadi entreprenur, wiraswasta, atau pengusaha?

Bukan. Lulusan/alumni Fisip bisa bekerja di semua bidang profesi apa saja, tidak hanya di bidang swasta, mejadi birokrat, pengusaha, ataupun politikus. Tetapi yang ditekankan dengan jiwa entreprenur adalah bagaimana alumni-alumni Fisip Unmul, apapun profesinya, bisa melaksanakan tugasnya sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat karena disukai dan diminati oleh masyarakat. Jadi jiwa entreprenur tidak hanya berkaitan dengan aspek usaha/wiraswasta, tetapi semua bidang profesi harus memiliki jiwa entreprenur yang berarti bisa memberikan pelayanan, pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan profesinya masing- masing.


Bagaimana dengam upaya membangun jejaring nasional sebagaimana yang disebutkan dalam visi Fisip Unmul tersebut?

Tidak ada masalah untuk jejaring nasional karena di Fisip kita bisa saling sharing melalui media dalam rangka saling memberi informasi, yakni melalui Forum Dekan. Dalam forum ini para Dekan yang tergabung didalam Fisip, Fia dan ilmu-ilmu sosial lainnya di seluruh Indonesia setiap tahun bertemu untuk membicarakan perkembangan di bidang ilmu sosial dan lain sebagainya. Untuk diketahui, tahun ini Forum Dekan akan dilaksanakan di Banda Aceh pada tanggal 5–7 Oktober 2012.


Bagaimana dengan jejaring internasional? Apakah sudah dirintis/dilakukan dan bagaimana kira-kira kelanjutannya?

Untuk jejaring internasional, ada kendala yang kita hadapi karena untuk mewujudkan jejaring internasional tentu kita harus melakukan MOU atau kerjasama dengan perguruan tingi- perguruan tinggi yang ada diluar negeri. Kita beberapa kali melakukan kunjungan ke luar negeri dalam rangka menjajaki kerjasama tersebut. Perlu juga dicatat bahwa jejaring internasional yang dimaksud juga berkaitan dengan persoalan bagaimana agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajari di Fisip sesuai dengan standar-standar internasional yang ada.


Sebelum perbincangan berlanjut, ada baiknya kita mengenal sosok Dekan Fisip Unmul mulai dari masa kecilnya.

Prof. Dr. H. Adam Idris, M.Si dilahirkan di Bone, Sulawesi Selatan, pada tanggal 14 Januari 1960. Di masa kecil, beliau dirawat oleh neneknya yang tinggal di kampung, karena pada saat usia tiga tahun, ayah beliau sudah merantau ke Kalimantan Timur tepatnya pada tahun 1963. Tujuh tahun kemudian ibu beliau juga menyusul merantau ke Kalimantan Timur. Pada usia delapan tahun beliau duduk di Sekolah Dasar, karena pada masa itu di kampung belum ada Sekolah Taman Kanak-Kanak. Beliau bersekolah di Kecamatan Ajangale, Pompanua Kabupaten Bone. Pengalaman yang paling berkesan di masa kanak-kanaknya adalah pada saat duduk di kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar. Ketika itu teman-teman seusiamya mengikuti kegiatan Pramuka dan Baris-Berbaris yang dipertandingkan antara sekolah satu dengan yang lainnya. Tetapi untuk menjadi anggota perkumpulan tersebut, murid yang bersangkutan harus memakai pakaian seragam. Karena keterbatasan ekonomi, neneknya tidak mampu membelikannya seragam yang diwajibkan, sehingga beliau akhirnya tidak bisa menjadi salah-satu bagian atau anggota dari kelompok tersebut. Pengalaman tak terlupakan tersebut memiliki kesan tersendiri. Ini karena, untuk anak-anak seusia beliau saat itu menjadi anggota Pramuka atau pasukan baris-berbaris adalah merupakan sebuah kebanggaan.


Sewaktu kecil, Bapak bercita-cita ingin menjadi apa?

Cita-cita masa kecil saya adalah ingin menjadi Guru.


Kalau SMP dan SMA-nya di mana/bagaimana?

Saya bersekolah SMP di ibukota kabupaten. Untuk melanjutkan sekolah (setelah tamat SMP), kalau masuk SMA [Sekolah Menengah Atas – sekarang SMU, Red.] saya harus melanjutkan kuliah lagi untuk bisa bekerja. Karena keadaan keuangan orangtua yang tidak mampu membiayai kuliah nantinya, maka saya memutuskan untuk memilih Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dengan alasan dan pertimbangan jika tamat nanti bisa langsung bekerja sebagai guru. Lingkungan ketika itu sepertinya juga mempengaruhi orientasi pekerjaan, dimana saat itu di kampung saya profesi pekerjaan yang ada atau diharapkan hanya pedagang dan guru saja.


Kalau tak salah Bapak adalah alumni (S1) Fisip Unmul. Bisa diceritakan kenapa Bapak memilih kuliah di Fisip Unmul? Cita-cita dulu ketika masuk Fisip ingin menjadi apa?

Benar, saya adalah alumni S1 Fisip Unmul. Alasan saya melanjutkan kuliah karena ketika lulus SPG, saya sudah dapat berkomunikasi dengan orangtua dan mendapat kabar bahwa orangtua di Samarinda sudah memungkinkan untuk membiayai perkuliahan. Sedangkan alasan memilih Fisip Unmul karena sewaktu bersekolah di SPG saya tinggal bersama guru saya, dan guru saya itu menyarankan jika lulus nanti sebaiknya melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, karena setelah lulus nanti dapat bekerja di pemerintahan. Di Fisip saya memilih Program Studi Ilmu Pemerintahan.


Sewaktu kuliah dulu, siapa yang menanggung biaya kuliah Bapak? Apakah pernah mencoba-coba melakukan perkerjaan tambahan untuk menambah biaya kuliah atau uang saku?

Karena latar belakang keluarga yang kurang mampu, awalnya saya tidak pernah bermimpi untuk bisa kuliah. Tapi karena takdir dan kuasa Allah SWT, akhirnya saya bisa kuliah dengan biaya SPP ditanggung oleh orang tua. Untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya menumpang di rumah orang lain yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, yakni Bapak Made Ali. Saya membantunya berjualan ikan di pasar Sungai Dama di pagi hari, s